Jam sebelas malam, laptop gue masih nyala. Di layar ada file klien yang harusnya selesai dua jam lalu. Tapi di sebelah gue, anak gue umur tujuh tahun masih duduk, nungguin gue jawab pertanyaan dia soal PR matematika. Gue bilang "bentar ya, Nak." Dia bilang "bentar terus, Ayah."
Itu bukan adegan sekali. Itu pola yang berulang hampir tiap minggu. Dan gue baru sadar setelah beberapa bulan kerja lepas dari kos, bahwa masalahnya bukan waktu. Masalahnya cara gue naruh prioritas.
Kerja dari Kos, Anak Ikut Numpang
Gue mulai jadi pekerja lepas sekitar tiga tahun lalu. Awalnya karena kantor lama banget ngatur jam kerja, dan gue pengin bisa antar-jemput anak ke sekolah. Kedengeran mulia, kan? Kenyataannya, kerja dari kos itu bikin batas antara "kerja" dan "ngurus anak" jadi kabur total.
Baca juga: Freelancer & Mitos Pengasuhan: Jangan Telan Mentah-mentah
Dulu, waktu masih kerja kantoran, jam lima sore gue udah di luar gedung. Pikiran udah selesai. Sekarang, jam lima sore itu justru jam paling sibuk. Klien baru bangun, email numpuk, dan anak baru pulang sekolah pengin cerita.
Baca Juga: linkmapstoto.net
Gue pernah coba multitasking. Satu tangan ngetik, satu tangan megang buku cerita. Hasilnya? Email gue penuh typo, dan anak gue komplain karena ceritanya nggak nyambung. Nggak ada yang beres. Dua-duanya jadi setengah-setengah.
Yang Gue Pelajari dari Kamar Kos Sempit
Kos gue cuma 3x4 meter. Nggak ada ruang khusus kerja. Meja lipat, kasur, dan lemari jadi satu. Anak gue kalau main, ya di situ. Jadi gue nggak bisa pura-pura "sedang di kantor" dan nutup pintu. Semua kelihatan.
Justru dari situ gue belajar hal yang nggak pernah gue dapat dari buku parenting mana pun.
Anak nggak butuh waktu banyak, dia butuh waktu yang jelas
Gue dulu mikir, "yang penting kualitas waktu." Tapi buat anak umur tujuh tahun, konsep kualitas itu abstrak. Yang dia ngerti cuma satu: Ayah ada atau nggak.
Jadi gue bikin aturan sederhana. Jam empat sampai setengah enam sore, laptop tutup. Titik. Nggak ada email, nggak ada chat klien. Kalau ada yang urgent, gue bilang di awal ke klien bahwa gue punya blok waktu yang nggak bisa diganggu. Ternyata sebagian besar klien ngerti. Yang nggak ngerti, ya bukan klien gue.
"Anak nggak butuh kamu punya banyak waktu. Dia cuma butuh tahu kapan kamu beneran ada."
Setelah aturan itu jalan, anak gue berhenti nanya PR jam sebelas malam. Bukan karena PR-nya selesai, tapi karena dia tahu kapan bisa nanya. Anak-anak itu pintar membaca pola. Kalau kamu konsisten, mereka berhenti nyari perhatian dengan cara yang bikin kamu kesal.
Uang tambahan nggak sebanding dengan momen yang lewat
Ada masa gue ambil semua proyek yang datang. Duitnya lumayan, tapi gue sadar gue jadi orang asing di rumah sendiri. Anak gue lebih deket sama tetangga kos daripada sama gue. Itu nyakitin, tapi jujur aja, itu akibat perbuatan gue sendiri.
Sekarang gue punya patokan aneh tapi berguna. Setiap kali ada tawaran proyek yang bakal makan waktu malam dan akhir pekan, gue tanya diri sendiri: "Duit ini buat siapa?" Kalau jawabannya cuma buat nambah barang yang nggak penting, gue tolak. Kalau buat kebutuhan beneran, gue ambil tapi gue kasih tahu anak gue duluan kenapa Ayah sibuk minggu ini.
Ngomong sama anak soal kerjaan itu ternyata penting. Bukan buat bikin dia ikut stres, tapi biar dia ngerti. Anak gue sekarang tahu kalau Ayah kerja buat beli susu dan bayar sekolah. Dia jadi nggak rewel kalau gue sesekali sibuk, karena dia paham kenapa.
Hal-Hal Kecil yang Bikin Bedanya
Nggak semua pelajaran datang dari momen besar. Kadang justru dari hal receh yang gue temuin sambil ngobrol sama anak di kasur kos.
- Dengerin dulu, jangan langsung benerin. Anak cerita soal temennya yang jahil. Gue dulu langsung kasih solusi. Sekarang gue diem dulu, dengerin sampai habis. Ternyata dia cuma pengin didengerin, bukan dikasih ceramah.
- Minta maaf kalau salah. Kalau gue udah janji main tapi ketiduran karena lembur, gue bilang maaf. Bukan alasan. Anak belajar dari cara kita ngaku salah, bukan dari cara kita nyalahin keadaan.
- Libatkan anak di rutinitas kecil. Kadang anak gue ikut bantu buka laptop, nyalain lampu meja, atau bawa gelas kopi. Dia ngerasa bagian dari kerjaan gue. Efeknya, dia lebih sabar waktu gue harus fokus.
- Jangan bawa stres kerja ke obrolan. Kalau klien bikin gue kesal, gue nggak cerita ke anak. Beda antara ngasih tahu gue sibuk dan numpahin emosi. Anak bukan tempat sampah keluhan.
Yang paling gue syukurin sekarang: anak gue nggak takut ngomong. Kalau dia butuh sesuatu, dia bilang langsung. Nggak nunggu gue selesai kerja, nggak juga nyembunyiin. Itu buat gue tanda bahwa hubungan kami masih sehat, meski hidup di kos yang sempit dan jadwal kerja yang nggak jelas.
Buat Kamu yang Lagi di Posisi Ini
Kalau kamu pekerja lepas dan punya anak, gue nggak akan bilang semua ini gampang. Nggak ada rumus pasti. Ada hari di mana gue tetap gagal, tetap kerja sampai tengah malam, tetap lupa nanya PR. Tapi yang penting, gue tahu arah mana yang mau gue tuju.
Kerja lepas itu ngasih kebebasan. Tapi kebebasan tanpa batas cuma bikin kita sibuk terus tanpa arah. Anak nggak butuh kamu jadi orang tua sempurna. Dia cuma butuh kamu hadir, walau cuma setengah jam sehari, tapi beneran hadir.
Jadi mulai besok, coba tutup laptop setengah jam lebih awal. Duduk di samping anak. Tanya hari ini gimana. Jangan buru-buru. Kamu bakal kaget, ternyata obrolan receh itu yang paling kamu rindukan nanti.