Minggu, 8 November 2026 Berita Terkini & Terpercaya
zenmagazineafrica.comzenmagazineafrica.com
zenmagazineafrica.com - Your source for the latest articles and insights
Beranda › Telpon Ibu Cuma Buat Minta Uang?" Itu Salah Kita J...

Telpon Ibu Cuma Buat Minta Uang?" Itu Salah Kita Juga

Mahasiswa perantau sering merasa hubungan dengan orang tua jadi kaku dan transaksional. Padahal ada cara sederhana untuk merawatnya.

Telpon Ibu Cuma Buat Minta Uang?" Itu Salah Kita Juga

Malam itu gue lagi rebahan di kamar kos, scroll HP nggak jelas, waktu notifikasi WhatsApp muncul. Dari Ibu. Isinya cuma: "Nak, transfer bulan ini kapan?" Nggak ada "apa kabar", nggak ada "sudah makan?". Gue baca, terus gue balas singkat, "Besok ya Bu." Selesai. Dua menit kemudian gue sadar ada yang aneh. Bukan sama pesan Ibu, tapi sama gue. Kok rasanya komunikasi sama orang tua jadi kayak transaksi bank aja ya?

Kalau kamu mahasiswa perantau, mungkin kamu pernah ngerasain hal yang sama. Awalnya nggak kelihatan. Tapi lama-lama, telepon ke rumah cuma terjadi kalau ada perlu: minta uang, minta izin nggak pulang, atau laporan nilai. Di luar itu, radio senyap. Padahal dulu, waktu masih tinggal di rumah, kita ngobrol banyak hal receh — dari gosip tetangga sampai drama di sekolah.

Baca juga: Anak Sakit Saat Deadline: Ngejar Setoran atau Temenin Dulu?

Jarak Bikin Kita Lupa Cara Ngobrol

Gue nggak mau nyalahin siapa-siapa. Ini bukan soal kita jadi anak durhaka atau orang tua yang dingin. Ini lebih soal jarak yang mengubah ritme. Waktu masih serumah, obrolan terjadi otomatis. Di meja makan, di ruang tamu, saat ibu masak, saat ayah benerin motor. Nggak perlu dijadwalin, nggak perlu niat khusus.

Begitu pindah ke kota lain, semua momen otomatis itu hilang. Yang tersisa cuma waktu yang kita sengaja sisihkan. Dan jujur, kita jarang banget sengaja nyisihin waktu buat hal yang nggak mendesak. Telepon ke orang tua jadi masuk kategori "nanti aja kalau sempat", padahal "sempat" itu nggak pernah datang sendiri.

Yang lebih repot, orang tua kita juga nggak selalu bisa bilang "gue kangen" atau "telepon dong". Generasi mereka sering nggak diajarin ngomong begitu. Jadi mereka nunggu. Dan kita, karena sibuk kuliah, organisasi, kerja part-time, atau sekadar rebahan, juga nggak sadar ada yang nunggu.

Hubungan Keluarga Itu Perlu Dirawat, Bukan Cuma Diwarisi

Ini yang gue pelajari belakangan: hubungan keluarga itu bukan barang jadi. Bukan karena kita darahnya sama, otomatis hubungannya hangat. Nggak. Hubungan itu kayak tanaman — kalau nggak disiram, ya kering. Keringnya nggak langsung mati, tapi lama-lama jadi kayu.

Dan yang bikin gue mikir lebih dalam, ini nyambung banget sama cara kita nanti mengasuh anak. Anak itu belajar dari apa yang dia lihat, bukan dari apa yang kita omelin. Kalau kita tumbuh dengan orang tua yang cuma ngobrol soal uang dan nilai, kemungkinan besar kita juga bakal jadi orang tua yang begitu. Bukan karena jahat, tapi karena nggak tahu ada cara lain.

Kita nggak bisa ngajarin anak buat dekat sama kita, kalau kita sendiri nggak pernah belajar dekat sama orang tua kita.

Jadi buat gue, merawat hubungan sama orang tua sekarang itu bukan cuma soal bakti. Ini semacam latihan. Latihan buat jadi orang tua yang nanti bisa ngobrol sama anaknya tanpa harus nunggu ada masalah dulu.

Hal Kecil yang Bisa Kamu Coba Minggu Ini

Gue nggak mau kasih saran muluk-muluk kayak "telepon orang tua tiap hari". Itu nggak realistis buat kebanyakan mahasiswa, termasuk gue. Yang gue coba lakuin justru hal-hal kecil:

  • Kirim satu foto random seminggu sekali. Nggak perlu foto bagus. Foto makanan warteg, foto kucing di jalan, foto langit dari jendela kos. Orang tua suka hal beginian karena mereka jadi bisa "ikut" lihat hidup kita.
  • Tanya hal yang nggak penting. "Bu, bumbu rendang itu apa aja sih?" atau "Yah, dulu waktu muda kerja di mana aja?" Pertanyaan receh kayak gini sering buka obrolan panjang yang nggak diduga.
  • Telepon tanpa tujuan. Sesekali, telepon aja tanpa mau minta apa-apa. Bilang aja lagi di jalan, lagi nunggu kelas. Dengerin suara mereka lima menit. Itu udah cukup.
  • Ceritain hal kecil yang bikin kamu senang atau kesel. Dosen yang killer, teman yang ngeselin, nilai yang bikin bangga. Orang tua pengin tahu hidup kita, bukan cuma hasil akhirnya.

Gue udah coba beberapa minggu terakhir. Awalnya canggung, sumpah. Ibu gue sempat nanya, "Kamu kenapa? Ada masalah?" karena gue tiba-tiba telepon tanpa alasan. Tapi lama-lama jadi biasa. Sekarang obrolan kita nggak selalu soal transferan. Kadang cuma soal resep sambal, kadang soal sepupu yang mau nikah.

Buat yang Ngerasa Canggung Duluan

Nggak semua orang punya orang tua yang gampang diajak ngobrol. Ada yang keluarganya memang dingin, ada yang orang tuanya sibuk kerja, ada juga yang hubungannya sempat rusak. Kalau kamu ada di posisi ini, gue ngerti kalau saran di atas terasa nggak masuk.

Tapi canggung itu bukan alasan buat nggak mulai. Justru karena canggung, kita perlu latihan. Nggak harus langsung telepon panjang. Bisa mulai dari pesan singkat, dari komentar di status mereka, dari titip salam lewat saudara. Yang penting ada niat buat nyambung lagi.

Dan kalau nanti kamu punya anak, kamu bakal lebih peka. Kamu bakal tahu bahwa anak yang jauh bukan berarti anak yang nggak sayang. Kamu bakal tahu bahwa "nggak ada waktu" itu sering cuma alasan. Dan kamu bakal tahu cara ngobrol sama anakmu nanti, karena kamu udah belajar dari orang tuamu — atau dari kekurangan mereka.

Jadi, kapan terakhir kali kamu telepon rumah tanpa niat minta uang? Kalau udah lama, mungkin malam ini bisa jadi awal yang baru. Nggak usah lama-lama. Lima menit juga cukup.

Tags: mahasiswa perantau hubungan orang tua komunikasi keluarga jarak jauh mengasuh anak